-->
Tampilkan postingan dengan label essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essay. Tampilkan semua postingan
Seven

Pernahkah anda dihadapkan pada suatu soal pilihan berganda yang nyleneh yang intinya berapakah 2+2? Ada beberapa jawaban disitu, dua diantaranya adalah 4 dan jawaban yang satunya adalah “Tidak Tahu”. Mengapa bisa “Tidak Tahu” karena ternyata memang benar bahwa jawabannya adalah “Tidak Tahu”. Kok bisa begitu? Ternyata memang pertanyaan itu sangat menjebak logika kita. Khususnya kalau kita semata-mata Cuma sekedar menyandarkan pengertian angka-angka dalam satuan desimal 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0 atau puluhan. Ternyata apa yang kita sebut sebagai puluhan tak lebih dari suatu konsensus kita bersama untuk menyatakan suatu gagasan angka tambah, kurang, kali, bagi dan gabung dengan batasan maksimum 10 satuan (termasuk 0). Artinya jawaban 2+2 menjadi “Tidak Tahu” karena tidak disebutkan dalam soal tersebut sistem satuan bilangan apa yang dijadikan acuan atau referensi.
Gagasan dasar soal yang saya ilustrasikan di atas sebenarnya sangat mendasar yaitu apapun yang kita sebut bilangan sepertinya hanya sekedar sesuatu kaidah yang disepakati. Sehingga tidak bersifat absolut, namun bersifat relatif. Dalam hal angka, maka angka boleh dikatakan lebih absolut dibandingkan dengan huruf dan bahasa yang beraneka ragam digunakan di seluruh dunia. Bahasa angka nyaris seragam digunakan di seluruh penjuru dunia. Dalam arti tidak ada satu negarapun yang menolak sistem desimal atau puluhan sebagai dasar perhitungannya. Meskipun demikian, sistem desimal masih bersifat relatif. Lantas apakah ada bilangan yang absolut? Jawaban itu muncul kemudian ketika teknologi elektronik atau dijital mengusulkan suatu gagasan satuan bilangan baru yang sangat mendasar yaitu bilangan berdasarkan satuan angka 2 atau biner. Maka angka 2 pun ketika diterjemahkan dengan satuan biner atau 2-an kemudian menjadi 10 (2/2=1 sisa 0 sehingga diperoleh dalam satuan biner angka desimal 2 sama dengan 10). Keunggulan biner ternyata sangat mendasar karena dengan kode biner ini sinyal-sinyal elektrik 0 atau 1 menyatakan suatu kondisi logis “off” atau “on” alias hidup dan mati dan juga selaras dengan realitas kehidupan seperti adanya siang malam,gelap terang, pria wanita dan sebagainya. Pada akhirnya seluruh informasi dan pengetahuan manusia yang didijitalkan pun Cuma sekedar rangkaian 010101 semata.

>> Tauhid dan Era Dijital
Bilangan biner inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi lebih universal, sangat ruhaniah, dan barangkali Von Neuman yang menjadi bapak komputasi numerik yang melahirkan cara-cara simbolis matematis era dijital memperoleh gagasan dari pengertian ruhaniah agama-agama Timur tentang kaidah Tauhid Nol dan Satu, sebagai kaidah paling dasar yang menauhidkan Tuhan Yang Maha Esa. 0 dan 1 adalah Tiada Tuhan Selain Yang Satu yang dalam agama Islam menjadi “Laa Ilaaha Ilallaah” yang tersusun dari dua kalimat yakni kalimat Nafi(peniadaan)”Laailaha” yang berarti dunia dan segala wujud dan rupa itu sebenarnya tidak ada, dan kalimat itsbat(penetapan) ”illa Allah” yang berarti bahwa yang sejatinya ada dan wujud itu hanya Allah semata. Tanpa kita sadari, sebenarnya ateisme sudah rontok dengan lahirnya era dijital dan menjadi ideologi yang kuno dan basi karena ilmu pengetahuan modern lahir berdasarkan Tauhid yaitu 01.
Kalau kita lihat kenyataan saat ini semua pengetahuan manusia yang didijitalkan maka semuanya akan melulu kombinasi 10101010 yang tak lebih dari pernyataan bahwa semua ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan Allah Yang Maha Esa. Ketika Anda melihat televisi, mendengarkan radio, berselancar di internet, melihat situs ini itu, mengetikkan e-mail, menulis artikel, atau apapun aktivitas yang Anda lakukan dengan perangkat elektronik maka semua itu tak lebih dari sinyal-sinyal 10101010... Dalam kenyataan yang lebih mengejutkan, tubuh kita dan otak kitapun tak lebih dari biokomputer yang menguraikan semua tangkapan sistem inderawi kita dalam kode-kode biner 101010 dari semua informasi dan pengetahuan yang kita ekstrak melalui cahaya yang tertangkap sinyalnya dari sekeliling kita. Apakah indera itu mata, telinga, hidung, kulit ataupun perasaan kita, semua itu tak lebih dari kode-kode biner atau suatu penauhidan atas Allah Yang Maha Esa.
Kalau saja filsafat materialisme-ateisme tidak memperkosa kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, sehingga saat ini umumnya orang mengira ilmu pengetahuan bisa berjalan tanpa Tuhan, maka realitas angka sebagai suatu simbolisme ruhaniah dapat dengan mudah dicerna banyak orang. Dalam satuan biner kita melihat hakikat dari semua ilmu pengetahuan yang dengan komputerisasi Cuma sekedar angka–angka yang menauhidkan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam satuan desimal, angka-angka misterius yang unik terlahir sebagai bilangan Prima, yaitu angka yang tak bisa habis dibagi kecuali oleh angka satu dan dirinya sendiri. Yang menarik, suatu konsensus sudah dicapai bahwa angka 1 bukanlah disebut bilangan prima. Jadi, angka 1 sangat unik yang secara tidak langsung inipun tanpa disadari banyak orang, menjadi pernyataan tauhid juga. Dalam satuan desimal, bilangan prima adalah angka 2,3,5,7,11,13,17,19,23 dst. Yang jumlahnya hingga sekarang tidak berhingga.
Sejauh ini berbagai pengetahuan praktis yang berhubungan dengan teknologi elektronik dikembangkan dengan keunikan bilangan prima ini, misalnya teknologi keamanan komputer dan identifikasi lainnya yang memerlukan keunikan-keunikan. Bahkan, bagi umat Islam , bilangan prima sangat erat kaitannya dengan kitab suci al-Qur’an. Inilah yang tersirat dalam beberapa hadis dan ayat al-Qur’an yang mengatakan Allah adalah ganjil, dan menyukai yang ganjil-ganjil.
Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu.
(QS 89:1-4)
Maka dalam banyak kajian ilmiah al-Qur’an, muncul satu cabang pengetahuan yang sebenarnya terkait dengan kodefikasi penomoran surat dan ayat, jumlah, dan bilangan lainnya yang disebut ‘Ijaz ‘Adadi. Bukan suatu kebetulan juga bahwa angka 5, 7, 11, 17, 19 dan beberapa angka lainnya nampaknya akrab dengan peribadahan Umat Islam. Bahkan dalam beberapa ayat diinformasikan hitungan satu demi satu bahwa,
”Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (QS 72:28).
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.(QS 21:92)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.(23:52)
Dan yang secara jelas sebagai ungkapan tauhid adalah surat al-Ikhlas, Katakanlah: ”Dia-lah(huwa) Allah, Yang Maha Esa, (QS 112:1)
Ketika saya mencoba melihat bilangan prima dan satuan biner(2), suatu pengertian mendasar muncul bahwa sebenarnya bilangan prima pun muncul dari angka 1. Maka semua bilangan baik dalam satuan apapun akan selalu berasal dari yang satu jua termasuk konsepsi penciptaan yang akan saya uraikan dari angka 1 ini dengan suatu landasan berdasarkan Tauhid dan kalimat Basmalah yang melimpahkan rahmat dan kasih sayang, kekuatan dan pertolongan Allah SWT yang tak pernah habis dibagi kecuali oleh diri-Nya Sendiri.
Dari pemahaman matematis, Basmalah tak lain merupakan pernyataan yang menunjukkan suatu pelimpahan, pemberian, sokongan, dan terminologi pelimpahan dan pemberian kekuatan lainnya yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa matematis menjadi +, x, /, dan u yaitu tambah, kali, bagi, dan gabung, tidak ada pengurangan yang menunjukkan bahwa sifat pengurangan tak pernah ditampilkan dalam Basmalah yang ada semuanya adalah limpahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Pengertian ini juga membuktikan bahwa beberapa rumus elementer dan konstanta alam fisika modern) dapat menyajikan suatu uraian Tauhid yang memetakan Al Qur’an sebagai Kosmos Islam dari angka 1 sebagai Allah Yang Maha Esa kemudian memetakan ulang rangkaian surat dan ayat-ayat al-Qur’an yang ternyata memang di susun sesuai dengan bagaimana alam semesta dan semua isinya ini diciptakan oleh Allah SWT. Khususnya dalam kaitannya dengan peran manusia, alam semesta dan Tuhannya seperti telah diisyaratkan dalam firman-firman berikut : Surat Asy-Syuuraa ayat ke 53 (QS 41:53) yang berbunyi:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri,...”
Kemudian pada surat Adz Dzariyaat ayat 20-21 QS 51:20-21): “dan di Bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi yang yakin. Dan (juga) pada diri kamu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan.”
Dan surat Ar Ra’du 11 (QS 13:11): ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.
Rangkaian ayat-ayat Al Qur’an diatas sebenarnya hendak menegaskan kepada manusia suatu hubungan kosmologis dengan memahami dan mengetahui apa yang ada di dalam diri sendiri (yakni fitrah manusia yang merupakan fitrah Allah sendiri ”al insaanu sirrun, wa ANA sirruhu”), apa yang ada di langit dan bumi, dan apa yang dikatakan Tuhan semesta alam. Ringkasnya, rangkaian ayat-ayat diatas dapat disimpulkan sebagai suatu petunjuk, “Wahai manusia, kenalilah dirimu sendiri, kenalilah alammu, kenalilah Tuhanmu, kenalilah masamu dan masyarakat serta sejarahmu supaya engkau mengenali siapakah dirimu itu, darimanakah engkau berasal, mau kemanakah engkau akhirnya, dan ngapain di dunia ini.” Sebab ”Man ’arofa nafsahu, faqod ’arofa robbahu, waman ’arofa robbahu faqod jahula nafsahu”. Untuk itu maka ”Fas’aluu Ahla Ad-Dikri inkuntum laa ta’lamuun.
(By:pitu)
.::Atmonadi,Risalah Tauhid:Prima Kausa(1)::. Read More..
Seven

Rahasia Terbesar ”QURBAN”
(oleh: el-pitu)

Tak ada satu hal apapun yang terjadi didunia ini tanpa suatu maksud dan tujuan serta hikmah dari sang sutradara semesta raya. Begitupun dengan dengan peristiwa pengurbanan seorang hamba kepada Tuhannya, menjadi catatan emas dalam sejarah umat manusia yang dilakonkan oleh dua orang kekasih Allah, Ibrahim Alaihissalam dan putra tercintanya Ismail Alaihissalam. Meskipun tidak semua orang khususnya umat islam yang dapat mengetahui hikmah tersebut. Karena memang hanya Allah sendiri yang mengetahui sepenuhnya rahasia dan hikmah seluruh peristiwa yang telah dan akan terjadi. Namun demikian sudah seharusnya kita belajar dan merenungkan hal itu guna memperkuat dan mempertebal iman dan aqidah keislaman.

Hikmah-hikmah peristiwa dalam sejarah kenabian dan kerosulan sendiri ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)

Adaun di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:
"… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,
Mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS Al-Haj, 22:36)

Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya guna memenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan taqwanya yang tinggi dan murni, kemudian mengganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).

Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi bahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan semua sifat kesempurnaan lainya.

Kebahagiaan yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56), bukan pula abdi bagi nafsu yang tidak lain adalah wujud jiwa raganya sendiri, yang kental dengan sifat iblis yang abaa wastakbaro(acuh dan menyombongkan diri).

Di samping itu semua, Hari Raya Qurban pun merupakan Hari Raya yang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya.

Agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)

Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya, hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (ketaqwaan yang bermakna kesedian dengan ihlas secara totalitas untuk tunduk patuh atas perintah-Nya khal mayyitilghosili/seperti mayat yang sedang dimandikan, dengan mengurbankan segala bentuk keakuan akan ako-akon/rasa memiliki perihal dunia, untuk diserahkan pada KeAkuan Tuhan sebagai sang empunya segalanya). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi MENTAL KETAQWAAN (yang bersumber dari keihlasan serta rasa syukur yang sejati murni yang merupakan inti ibadah), dan hal ini tidak akan tumbuh melainkan di hati hamba-Nya yang diridhoi dan ditarik dengan belas kasihnya.

Dan agar supaya kita dijadikan hamba yang ditarik dengan ridho dan kasihnya itu, maka kita harus terus belajar dan menyadari bahwa kita adalah hamba yang Al Faqir, yang mana jangan kan untuk bekerja dan berkarya, berharta benda hingga mampu berqurban, bahkan bernafaspun tidak bisa tanpa daya dan kekuatan-Nya, lebih celakanya lagi bahwa ternyata dengan daya dan kekuatan-Nya itu ternyata hanya kita gunakan untuk menambah salah dan dosa, kesadaran semacam inilah yang harus selalu kita tanamkan dalam hati, sebagaimana dicontohkan Nabi Nuh ketika berada dalam perut ikan dengan ungkapannya “Laa ilaha illa anta subkhanaka inni kuntun minaddolimin” sehingga sepenuh hati sadar “Laa khaula walaa quwwata illa billah” Inilah yang dimaksud rahasia terbesar dalam memaknai ibadah qurban.

Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih (dalam hal duniawi maupun ukhrowi) dan segala bentuk keakuan nafsu, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya.

Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia yang merupakan sifat bangsa hewani yang dalam ibadah qurban disimbolkan untuk disembelih(dimatikan/dibersihkan dari hati), setidaknya kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.

Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan, mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi serta nilai tertinggi aqidah ketauhidan.




Read More..
Label: 0 komentar | | edit post
Seven

CINTA dan PENGORBANAN
(OLEH:el-pitu)


Sebuah ungkapan mengatakan bahwa “Cinta membutuhkan pengorbanan” nah bagaimana jika dibalik. “Pengorbanan membutuhkan Cinta”. Apakah hukum a x b = b x a??? ataukah kedua ungkpan bolak-balik itu masih memiliki makna yang sama, berubah, atau justru berlawanan? Mari kita uraikan bersama, dan mari kita kaji makna lebih mendalam.

Cinta sebuah kata beribu makna, begitulah katanya. Bila sekedar memaknai dan memahami cinta saja tidak ada satu definisipun yang tepat, saya jadi berfikir keras, lalu bagaimana kita bisa memahami apalagi mengimplementasikannya dalam kehidupan??? Yach … kami pun belum bisa mendefinisikan dengan tepat apakah itu cinta, namun disini saya memang tidak akan menbahas apa itu cinta, sebab definisi cinta itu sangat subjektif sekali.

Baiklah, mari kita perhatikan berikut ini.
Cinta itu membutuhkan pengorbanan, bila kita mencintai hal apapun juga, maka cinta itu akan menjelma menjadi makluk yang hudup di dalam perasaan dan pikiran kita. Ia akan mampu memerintahkan sesuatu hal pada kita, merubah suasana hati, cara berpikir kita dan bahkan mampu merubah penampilan sikap mental, serta penampilan lahiriah seorang. Ia bahkan juga bisa memberikan dan membangkitkan power yang dahsyat yang sebelumnya tidak disadari seseorang.

Namu demikian makluk yang satu ini juga akan meminta imbalan yang luar biasa, yang disebut dengan pengurbanan, apapun itu wujudnya, mulai dari pengurbanan perasaan, jiwa, raga, harta bahkan nyawa. Tergantung sebesar dan sekuat apa ia hiudp di dalam diri seseorang. Sedangkan besar kecil, kuat lemahnya ia tergantung bagaimana seseorang memeliharanya, mendidik dan mengarahkannya. Ia bisa menjadi iblis yang siap menggiring seseorang ke lembah kesesatan, ia juga bisa menjadi malaikat yang senantiasa menjaga kita tetap dalam jalur Sirotol Mustaqim.
Cinta, merupakan salah satu referensial ketuhanan seseorang paling signifikan. Artinya, kecintaan seseorang akan menunjukkan besaran kualitas sekaligus kuantitas keimanan seseorang. Dalam arti, cinta bisa menjadi rujukan apa dan atau siapakah tuhan dalam kehidupan seseorang. Lebih jelasnya bahwa kecintaan sesorang membawa seseorang itu untuk menuhankan apa-apa yang dicintainya.

Kecintaan yang berlebihan kepada jabatan misalnya, membawa penuhanan terhadap jabatan, segala amal perbuatan lahir batin, niat, amalan, dan tujuan serta segala gerak-gerik akan terpusat demi, untuk dan karena jabatan. Demikian pula kecintaan terhadap hal-hal lainnya, akan membentuk hierarki penuhanan dalam diri seseorang. Nah, manakala puncak hierarki penuhanan tersebut ternyata tidak diduduki oleh Tuhan yang Allah Asmanya, yang Al-Gaib yang Wajibul Wujud, maka itu tentu akan membatalkan keimanan seseorang, dan itulah orang yang divonis Allah sebagai orang musrik yang tidak terampuni dosa atas kemusrikan itu, Na’udzubillah Mindalik.

Mari kita simak Firman Allah berikut (QS: Al Kautsar)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (manusia) nikmat(anugrah) yang banyak. Maka dirikanklah sholat dan berkorbanlah”.
>>makna.... fasholli lirobbika wan Khar------------------------.>

Di bulan Dulhijjah ini kita diingatkan kembali sebuah moment terdahsyat dalam sejarah umat manusia berkenaan dengan “cinta dan pengorbanan”. Ya, pengorbanan cinta demi cinta , pengorbanan akan kecintaan terhadap anak satu-satunya demi sebuah puncak Cinta yang Absolut seorang Rosul kepda Tuhannya. Dalam kisah inilah sebenarnya kita bisa belajar dengan tepat memaknai Cinta dan mengaplikasikannya dengan benar.

Dalam kisah ini terbukti “Cinta membutuhkan pengorbanan”.

Demi Cintanya kepada Allah, dikorbankanlah cintanya kepada Nabi Isamil, lebih dari itu “pengorbanan membutuhkan cinta” artinya untuk mau dan mampu berkorban ternyata butuh Cinta yang benar-benar Cinta bukan cinta semu, sebab bila pengorbanan tanpa cinta itu artinya bukan pengorbanan tapi Istidrot (penglulu) atau bahkan mungkin ………………


Read More..
Label: 0 komentar | | edit post
Seven


MERDEKA ATAU MATI

 

Sudah 61 tahun negara ini meneguk manisnya kemerdekaan, merdeka dari penjajah bangsa-bangsa kolonial. Kemerdekaan yang diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan darah, air mata, cucuran keringat, harta benda bahkan ribuan nyawa para pejuang, sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus untuk mensyukuri rahmat kemerdekaan itu dengan benar. Dengan mewujudkan apa yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini, yakni dengan membangun bangsa ini hingga menjadi bangsa yang berketuhanan yang Maha Esa (bertauhid) dengan sebenar-benarnya bertauhid, berpersatuan dalam kesatuan, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia serta beradab dengan dipimpim oleh hikmat kebijaksaan, menjadi Negara yang sentosa yang dalam istilah lainnya yakni Negara Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur hingga akhir zaman.

Kenyataannya sekarang, sudahkah cita-cita luhur itu terealisasi??? Pembaca tentu bisa menjawab dengan tepat. Memprihatinkan memang melihat kenyataan yang ada sekarang ini, keprihatin yang mendalam bahwa bangsa ini kian hari justru semakin terpuruk dalam ketidakmenentuan arah. Bangsa ini terjerat dalam kebingungan mendalam, bahkan seakan alampun justru menambah keparahan kerusakan bangsa ini. Seolah tuhanpun tidak mendukung, tentu saja tuhan yang maha benar tidak salah dengan kehendak-Nya. Mungkin saja ini adalah ujian, mungkin pula peringatan keras dari-Nya, atau bahkan mungkin ini adzab??? Bila benar ujian tentu kita harus sabar dan ihlas menerima, bila ini adalah peringatan sudah semestinya segenap penduduk negeri ini introspeksi diri masing-masing, sedang bila ini adalah adzab, Na’udubillah Mendalik, maka wajib bagi setiap yang masih merasa sebagai hamba Tuhan untuk bersegera  kembali pada Taubatan Nasuha.

Memang kita tidak bisa memastikan apa yang menjadi kehendak_Nya, namun kita tentu bisa mengira-ngiranya. Dan yang lebih penting lagi sekarang ini bagi bangsa ini untuk kembali menata diri bukan hanya system dan tatanan berbangsa dan bernegara, tetapi juga tatanan berkehidupan dalam hubungannya dengan sang Maha pemberi kehidupan ini. Sebab setiap pemberian termasuk kehidupan itu sendiri tentu disertai dengan tanggung jawab dalam implementasinya  dengan secara kontinyu dan simultan serta terintegrasi penuh baik dalam tatanan berbangsa, bernegara bermasyarakat, bersosial polotik, berekonomi dan berpendidikan, berumahtangga dan semua sisi kehidupan hingga yang sekecil-kecilnya.

Inilah perkerjaan rumah setiap diri saat ini sebagai manifestasi wujud  syukur atas kehidupan dan kemerdekaan yang merupakan rahmat Allah yang maha kuasa, bila tidak maka bisa saja Allah menarik nikmat kemerdekaan yang selama ini dinikmati bangsa ini, alangkah mengerikannya. Sebagai mana semboyan para pejuang kemerdekaan bangsa ini “Merdeka atau Mati”, generasi bangsa ini selayaknya tetap memegang teguh semboyan ini. Meskipun perjuangan sekarang berbeda, bukan lagi berperang ke medan tempur dengan senjata, melainkan bertempur melawan kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan dan yang lebih berat berat lagi yakni berperang dengan diri masing-masing melawan nafsu yang maunya hanya mengajak kepada kerusakan, kepentingan-kepentingan dan kesenangan diri pribadi, acuh arogan iri hati dan segunung sifat-sifat hewani yang ujung-ujungnya hanya membawa kepada kerusakan diri dan bahkan juga merusak tatanan berkehidupan.

Tetap dengan memegang semboyan merdeka atau mati, merupakan pilihan yang tepat. Merdeka berarti tercapainya kemerdekaan  sejati lahir batin, merdeka lahir terbebas dari penjajahan Negara dan bangsa lain dalam bentuk ekonomi, budaya dan sebagainya serta merdeka batin terlepas dari kungkungan nafsu dengan berbagai sifat-sifatnya yang selalu dalam kerjasama yang intim dengan makluk yang yang bernama iblis dan bala tentaranya termasuk jin, syaiton, sert lelembut seisi jagad. Sedang mati berarti bahwa setiap perikehidupan yang sama sekali tidak sejalan dengan kehendak Allah dan Utusannya yang terus mengada di bumi guna menjadi saksi atas semua perbuatan manusia, sama sekali tidak diberi peluang untuk muncul, bergerak, dan mengotori peradababan bangsa ini.

Semoga seiring dengan bertambahnya usia kemerdekaan bangsa ini, rahmat Allah dicurahkan dari langit dan bumi kepada segenap penduduknya serta dibukakan-Nya mata hati setiap diri sehingga dengan benar bisa melihat kebenaran yang sejati, dengan kesadaran dapat melihat setiap hikmah dibalik setiap peristiwa, dengan ihlas dan syukur serta semangat jihadunafsi dapatnya selalu bisa mengadili diri sendiri hingga tercapai rasa hati yang hurriah tammah (merdeka sejati), dan terwujudlah Negara Indonesia yang merdeka sejati berdasarkan Pancasila. Amin. Akhir kata…Merdeka!!! 

Read More..
Label: 0 komentar | | edit post